| Penggunaan Metafora dalam Pembelajaran IPA |
| Oleh: ASEP SAPA'AT | |
|
Ilmu Pengetahuan
Alam (IPA) merupakan salah satu pelajaran yang sangat penting dan tidak
dapat dipisahkan dari kegiatan manusia. Mata pelajaran IPA bagi sebagian
besar siswa masih dianggap sebagai pelajaran yang relatif sulit.
Sistem
pembelajaran IPA yang cenderung monoton dan tidak bervariasi, situasi
pembelajaran yang cenderung membuat siswa tertekan, dan kurangnya upaya
dari guru untuk memotivasi siswa dalam pembelajaran IPA menjadi alasan
lain yang dapat memperkuat anggapan siswa tehadap sulitnya belajar IPA.
Salah satu upaya yang memungkinkan dapat dilakukan oleh guru untuk menyiasati
permasalahan tersebut adalah dengan memberikan dorongan atau rangsangan
yang positif agar siswa menjadi senang belajar IPA dan dapat melaksanakan
pembelajaran secara efektif. Penyajian materi dengan metafora dalam
pembelajaran IPA memiliki peranan penting untuk meningkatkan motivasi
belajar siswa, karena penyajian metafora dapat membuat siswa belajar
dalam situasi yang menyenangkan dan proses pembelajaran IPA dapat berlangsung
secara bermakna. Kata kunci: Metafora Pendahuluan Tampaknya kita tidak dapat memungkiri bahwa pelajaran IPA merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan manusia. Karena IPA adalah pengetahuan tentang fakta dan hukum-hukum yang didasarkan atas pengamatan dan disusun dalam suatu sistem yang teratur, di mana dalam proses pengamatan tersebut kita akan banyak berinteraksi dengan fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan keseharian kita. Ironisnya, mata pelajaran MIPA dewasa ini masih merupakan mata pelajaran yang tidak disukai atau bahkan sangat dibenci oleh siswa (Dorojatun, 2001). Semiawan (Ibrohim dan Hariadi, 2002: 359) menegaskan bahwa selain ditandai dengan rerata perolehan NEM yang relatif rendah, kekurangberhasilan pendidikan IPA di sekolah juga ditandai oleh kemampuan berpikir anak didik yang rendah dalam menghadapi masalah kehidupan sehari-hari atau siswa kurang mampu menerapkan apa yang telah dipelajari terhadap situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Hal seperti ini tentu saja menjadi masalah yang perlu dibenahi. Ruseffendi (1991: 19) mengemukakan bahwa sepuluh faktor yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam belajar antara lain sebagai berikut: (1) kecerdasan, (2) kesiapan belajar, (3) bakat, (4) kemauan belajar, (5) minat, (6) cara penyajian materi perkuliahan/pembelajaran, (7) pribadi dan sikap pengajar, (8) suasana pengajaran, (9) kompetensi pengajar, (10) kondisi masyarakat luas. Kesepuluh poin di atas menjelaskan bahwa cara penyajian materi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus menjadi penentu keberhasilan siswa. Apakah materi yang disajikan embuat siswa tertarik, termotivasi, kemudian timbul perasaan pada diri siswa untuk menyenangi materi, dan adanya kebutuhan terhadap materi tersebut. Ataukah justru cara penyajian materi hanya akan membuat siswa jenuh terhadap pelajaran IPA? Sejalan dengan pemikiran Syah (1995) bahwa kekurangan atau ketiadaan motivasi akan menyebabkan kurang bersemangatnya siswa dalam melakukan proses pembelajaran baik di sekolah maupun di rumah. Sudah menjadi hal yang lazim, jika seorang guru dalam memberi materi pembelajaran tanpa banyak basa-basi. Sepanjang waktu yang digunakan dalam kelas, semuanya dipenuhi dengan pemberian materi dan latihan saja. Sejak jam pelajaran dimulai, siswa diharuskan untuk mengkonsumsi materi pembelajaran IPA tanpa adanya kesempatan mengelak. Tak ada kesempatan untuk mempelajari hal-hal lain yang sama penting, atau bahkan jauh lebih penting daripada konten IPA itu sendiri. Bisa jadi, inilah yang meneyebabkan munculnya persepsi bahwa IPA itu 'menyeramkan'. Terlebih lagi jika penyampaian materinya sangat kaku dan membosankan. Masalah di atas itu perlu kiranya dicarikan solusinya. Bagaimana seorang pengajar mampu menghilangkan citra buruk IPA di benak siswanya, dan tentu akan lebih baik jika akhirnya nanti, perasaan cinta dan butuh terhadap IPA/pembelajaran IPA benar-benar telah tumbuh berkembang dalam jiwa setiap siswanya. Salah
satu alternatif penyajian materi pembelajaran adalah dengan menggunakan
metafora. Baik di awal, pertengahan, ataupun di akhir pembelajaran,
dengan tujuan untuk mendongkrak minat dan motivasi siswa sebagaio pembelajar.
Metafora yang dimaksud adalah memaparkan serita tentang hakikat kesuksesan,
perumpamaan-perumpamaan mengenai suatu bentuk kehidupan yang notabene
akan mereka hadapi kelak, simulasi, ataupun kisah-kisah berbagai orang
sukses dalam hidupnya, serta legenda-legenda lainnya. Diharapkan nantinya,
setelah pembelajaran selesai, setiap siswa sebagai pembelajar
memiliki wawasan lebih tentang kehidupan nyata yang akan mereka songsong,
sehingga motivasi mereka untuk lebih sungguh-sunguh belajar dapat ditingkatkan. Motivasi
Belajar Nasution (1992) mengungkapkan pengertian motivasi belajar, yaitu kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk belajar. Sedangkan Nurhayati (1999, dalam Maulana, 2002a) berpendapat bahwa motivasi belajar adalah suatu dorongan atau usaha untuk menciptakan situasi, kondisi, dan aktivitas belajar, karena didorong adanya kebutuhan untuk mencapai tujuan belajar. Dari beberapa pendapat di muka, dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah dorongan dari dalam diri individu untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Motivasi dapat dijadikan sebagai dasar penafsiran, penjelasan, dan penaksiran perilaku. Adanya motivasi karena seseorang merasakan adanya dorongan kebutuhan untuk mencapai tujuan tertentu. Motivasi
menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Motivasi menjadi salah
satu faktor yang turut menentukan belajar yang efektif dan menentukan
hasil belajar yang lebih baik. Motivasi tidak dapat diabaikan
di dalam kegiatan belajar mengajar, karena tanpa adanya motivasi suatu
kegiatan belajar mengajar kurang berhasil. Sebagai salah satu kemungkinan
yang dapat dilakukan oleh guru adalah dengan memberi rangsangan atau
dorongan kepada siswa. Motivasi yang diberikan oleh guru merupakan faktor
yang dapat menumbuhkan semangat siswa dalam mencapai tujuan belajarnya. Metafora
dalam Proses Pembelajaran Penggunaan metafora dalam pembelajaran mempunyai peranan yang sangat penting, yaitu kemampuan menciptakan minat dan meningkatkan motivasi belajar para siswa. Hal ini didukung oleh pendapat beberapa ahli yang telah lama berkecimpung dalam penelitian tentang kinerja otak. Penyajian materi dengan metafora dalam pembelajaran memiliki peranan penting untuk meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa, karena penyajian metafora membawa mahasiswa ke dalam suasana ynag penuh kegembiraan dan keharuan, sehingga menciptakan pemaknaan dalam proses belajar selanjutnya (DePorter, Reardon, dan Nourie, 2000: 14). Seperti pernyataan Caine dan Caine (1997, dalam DePorter, dkk, 2000: 21), "Perasaan dan sikap siswa akan berpengaruh sangat kuat terhadap proses belajarnya". Hal ini senada dengan ungkapan Goleman (1995: 28) seperti yang dikutip oleh DePorter dkk (2000: 22), "Penelitian menyampaikan kepada kita bahwa tanpa keterlibatan emosi, kegiatan saraf otak itu kurang dari yang dibutuhkan untuk merekatkan pelajaran dalam ingatan". Sedangkan, seseorang akan belajar dengan segenap kemampuan apabila dia menyukai apa yang dia pelajari dan dia akan merasa senang terlibat di dalamnya (Howard Gardner, 1995, dalam DePorter, dkk, 2000: 23). Sebenarnya
sangat banyak metafora yang dapat digunakan atau disampaikan dalam setiap
pembelajaran. Misalnya: (1) bercerita dengan menggunakan perumpamaan
untuk menumbuhkan kesadaran betapa pentingnya pembelajaran tersebut,
(2) bercerita dengan perumpamaan, bahwa yang bertanggung jawab terhadap
pendidikan pada hakikatnya adalah diri sendiri, (3) memberikan penjelasan
bagaimana kiat meraih sukses dalam pembelajaran dan kehidupan, (4) menyajikan
paparan bahwa orang belajar harus siap keluar dari zona nyaman, (5)
mendiskusikan mengapa hingga saat ini kualitas pendidikan Indonesia
masih terpuruk, (6) mengisahkan tentang beberapa tokoh terkenal seperti
Albert Einstein, Stephen Hawking, Syaikh Ahmad Yasin, Richard Rufallo,
David Beckham, Michael Jordan, Thomas Alva Edison, Jalaluddin Rumy,
Umar Khayyam, Iwan Fals, dan sebagainya, atau (7) memberikan beberapa
nasihat dan tips-tips untuk meraih keberhasilan. Kesimpulan
dan Saran Dengan memperhatikan uraian di atas, dipandang perlu adanya pemikiran ulang mengenai kebiasaan para pengajar dalam menyampaikan materi pembelajarannya. Apakah selama ini melupakan betapa pentingnya metafora, atau sengaja tidak memberikan metafora karena merasa tidak perlu, atau memang karena tidak punya bahan untuk diceritakan di depan kelas? Dalam
konteks peningkatan kualitas pendidikan IPA, diharapkan ke depannya
para pengajar IPA menjadikan metafora sebagai alternatif untuk menggugah
semangat siswa untuk lebih giat belajar IPA, sehingga pada gilirannya
nanti citra buruk IPA yang melekat di benak siswa dapat berubah ke arah
yang jauh lebih baik. Dari perasaan benci, berganti menjadi suka. Dari
perasaan bosan, berubah menjadi berminat. Dari menjenuhkan, menjadi
menyenangkan. Dari perasaan tak butuh, setahap demi setahap menjadi
penasaran, berkeinginan, membutuhkan. Seorang pengajar yang baik tidak
hanya dapat menjelaskan dan mendemonstrasikan materi pembelajaran, akan
tetapi dia mampu menginspirasi para siswanya. Good teacher explains,
superior teacher demonstrates, excellent teacher inspires. Daftar
Pustaka DePorter,
Bobby, dan Hernacki, Mike (1999). Quantum Learning: Membiasakan Belajar
Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Kaifa. DePorter,
Bobbi; Reardon, Mark; dan Nourie, Sarah Singer (2000). Quantum
Teaching: Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas. Bandung:
Kaifa. Dorojatun,
J. D. (2001). Comic as Student Motivator for Science and Technology
Literacy. Bandung. Hasil Seminar, JICA dan DGHE. Goleman,
D. (1995). Emotional Intelligences. New York: Bantam Books. Ibrohim
dan Hariadi (2002). Potensi Akademik dan Pandangan Guru IPA dalam
Peningkatan Pembelajaran IPA Sekolah Dasar di Situbondo, Kediri dan
Tegal. Disajikan pada National Education Science Seminar: New Paradigm
in Mathematics and Science Education in Order to Enhance The Development
and Mastery of Science and Technology, 5 Agustus 2002, Malang. Maulana
(2002a). Alternatif Pembelajaran Matematika dengan Menggunakan Media
Komik untuk Meningkatkan Motivasi Belajar dan Prestasi Belajar Siswa.
Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI. Tidak dipublikasikan. Nasution,
N. (1992). Psikologi Kependidikan. Jakarta: Depdikbud. Ruseffendi,
E.T. (1991). Pengantar kepada Guru: Membantu Mengembangkan
Potensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA.
Bandung: Tarsito. Sumber: http//lpi-dd.net |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
