Abstract:
The government efforts to improve our
education quality never stop, despite the facts that those efforts
have not yet given satisfactory result.
This nation has come to a
conclusion, to speed up its education quality improvement,
international classes where students learn science through English
language, must be provided to our SMAs. This has brought about a new
demand on the availability of science teachers with a good command of
English language. This article puts forward some considerations to
take in preparing SMA science teachers teaching their subject matters
with English language as language of instruction.
Key words: education quality, teaching medium language, and science
class
PENDAHULUAN
Dunia pendidikan merupakan lahan yang paling banyak menuai kritik
sejak zaman orde-baru. Lahan lain seperti kepolisian, dan kejaksaan
baru sekarang saja, semenjak reformasi, dikritik orang secara terbuka.
Barangkali, maksud kritik itu hanya untuk mengingatkan agar guru dan
siapa saja yang mengelola pendidikan dapat segera berbuat lebih
baik lagi. Yang masih menggembirakan dari badai kritik, kita tidak
mendengar tuntutan agar sekolah ditutup saja. Ini dapat diartikan
bahwa, masarakat masih menyandarkan harapannya kepada pendidikan
persekolahan; walaupun diakui mutu pendidikan itu belum menunjukkan
peningkatan yang berarti.
Dikatakan
mutu pendidikan kita rendah, antara lain, adalah karena lulusan
sekolah (SD, SMP dan SLTA) tidak memenuhi mutu dan harapan mereka yang
menampungnya. Siswa tamatan sekolah menengah tidak bisa diterima
langsung masuk perguruan tinggi baik di dalam, apalagi di luar
negeri. Siswa tamatan SMP dianggap belum mencapai kecakapan sesuai
taraf entry level SLTA. Begitu pula murid SD kaget sesampai di SMP.
Dunia tenaga kerja dalam negeri, apa lagi asing, mengeluhkan produk
pendidikan sekolah kita. Siswa yang dinyatakan tamat atau lulus SMP/MTs
dan SLTA tidak mencapai penguasaan iptek dan skill seperti yang
dituntut kurikulum.
Walaupun,
mantan presiden B.J. Habibie pernah menyatakan bahwa golongan
siswa berbakat, gifted students, dari ras manapun termasuk Indonesia
kalau dididik (di sekolah) dengan benar tidak akan kalah dengan ras
lain. Yang menjadi permasalahan; kita tidak punya cukup banyak sekolah
yang bisa mendidik dengan benar. Makanya human development index
(HDI), tingkat perkembangan mutu kehidupan manusia, Indonesia
cenderung berada di bawah negara berkembang lainnya. Ini memalukan.
Walaupun pada kenyataannya, pendidikan Indonesia masih seperti itu,
kita harus tetap menghargai upaya pemerintah dalam mencoba
meningkatkan mutu pendidikan. Kita harus ikut menyokong usaha-usaha
itu, dan melakukan sesuatu untuk mewujudkan cita-cita kita: pendidikan
bermutu untuk generasi baru Indonesia.
PEMBAHASAN
Peningkatan Mutu Melalui Berbagai Sekolah 'Piloting' "Dengan
asumsi bahwa terdapat 5% gifted students dari semua peserta didik SD
sampai dengan SLTA, akan didapatkan sekitar 2.022.700 orang anak
berbakat. Maka lahirlah gagasan pengadaan sekolah unggul (SMA), di
tahun 1993. Sekolah unggul sama dengan sekolah plus": Sistem
Penyelenggaraan Sekolah Unggul. Depdikbud (1993) halaman 3.
Berbeda dengan sekolah unggul yang banyak dikembangkan oleh pihak
swasta atau sekolah negeri yang didukung dengan 'yayasan swasta'
secara penuh, di awal era reformasi muncul pula apa yang disebut
dengan 'Sekolah Standar Nasional Bertaraf Internasional' (SSNTI),
seperti yang diatur Undang -undang Nomor 20 (tentang Sisdiknas)
Tahun 2003, pasal 50 ayat 3: Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah
menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua
jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang
bertaraf internasional.
Ada pula sekolah percepatan (akselerasi) di semua jenjang pendidikan.
Siswa atau murid akselerasi tidak harus belajar selama enam atau tiga
tahun di sekolahnya (SD, SMP dan SMA), tetapi mereka bisa ditamatkan
dalam empat tahun dan atau dua tahun saja tanpa kehilangan satu pokok
bahasanpun seperti apa yang dipelajari rekannya di kelas biasa.
Sekolah piloting (SSNTI) di tingkat SMA menerapkan sekolah dengan
bahasa pengantar Inggris di kelas matematika dan science-nya. Sebagai
permulaannya, SSNTI dicantolkan, di sekolah reguler yang ada dan
dimulai di kelas satu saja, bergandengan dengan beberapa kelas paralel
yang ada. Tahun berikutnya akan ada dua tingkat kelas internasional
piloting (kelas satu dan dua) dan begitu seterusnya. Tahun ajaran
2004/2005 di Sumatera Barat ada lima sekolah yang mempunyai kelas
internasional ini, dan tahun depan akan menyusul enam sekolah lagi.
Orangtua siswa kelas internasional ternyata bersedia membayar SPP
lebih. Anak mereka belajar di kelas matematika dan science dalam
bahasa Inggris dari guru mata pelajaran matematika dan science yang
dianggap mampu berbahasa Inggris. Bahkan ada sekolah tertentu yang
mendatangkan dosen perguruan tinggi, tamatan luar negeri, untuk
mengajar science dalam bahasa Inggris di kelas yang diperlakukan
dan ditata kusus itu.
Kelas internasional memakai kurikulum nasional. Bedanya dengan kelas
reguler; mereka memakai buku sumber mata pelajaran sience, berbahasa
Inggris terbitan Singapura dan Malaysia, yang dipakai di sekolah
sederajat. Konsekuensinya, kadang-kadang guru harus mengajarkan buku
itu melompat-lompat dari satu Bab tertentu ke Bab lain, karena
tuntutan kurikulum Indonesia tidak selalu sinkron dengan buku teks
luar negeri itu. Ruang kelas SSNTI dibenahi oleh komite pendidikan
khusus sekolah yang bersangkutan sesuai dengan kemampuan dana
pendukung yang bisa dihimpunnya. Sehingga kondisi fisik ruang kelas
SSNTI bisa sangat bervariasi. Ada yang cukup nyaman dengan pendingin
ruangan, namun ada pula yang tidak jauh berbeda dengan kelas reguler
lainnya. Yang istimewa dari kelas SSNTI dan kelas akselerasi adalah
jumlah jumlah siswa perkelasnya yang relatif lebih kecil, yaitu antara
25 sampai dengan 30 orang saja.
Ketiga macam sekolah di atas; sekolah unggul, sekolah dengan kelas
akselerasi dan SSNTI, tentu harus dilengkapi dengan fasilitas
pendidikan yang mampu menunjang usaha peningkatan mutu. Sementara,
secara umum sekolah kita yang ada memang kurang menggembirakan
fasilitasnya. Jangankan untuk memenuhi fasilitas yang berstandar
internasional, kenyataan menunjukkan; untuk mengadakan segala
kelengkapan sekolah dengan standar nasional saja, pemerintah (baca:
pemda kabupaten dan kota) sudah kelabakan.
Permasalahan/Kendala Yang Dihadapi
Sekolah reguler dan ketiga macam sekolah piloting tadi (unggul,
akselerasi dan SSNTI) mempunyai berbagai kendala umum yang hampir sama.
Walaupun sekolah dari tiga tipe terakir pada awalnya dimaksudkan untuk
merintis usaha perbaikan mutu, namun dia tetap juga dipengaruhi oleh
permasalahan yang umum seperti yang dihadapi oleh sekolah reguler.
Kendala umum itu adalah: kekurangan tenaga guru, ruang belajar, dan
sumber belajar. Juga berkontribusi negatif kepada usaha peningkatan
mutu, secara keseluruhan; 'lemahnya koordinasi pembinaan di tingkat
kabupaten/kota dan propinsi'. Khusus untuk mencukupi jumlah tenaga
guru setidaknya ada tiga kesulitan: 1) kurangnya pengangkatan guru
baru, 2) 'pemerataan' distribusi tenaga guru ke semua sekolah, dan 3)
peningkatan kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar.
Pemenuhan atas kebutuhan tenaga guru bertambah sulit karena, sekitar
10% tenaga guru memasuki masa pensiun tiap tahun sementara jumlah guru
yang diangkat baru tidak mampu mengimbangi itu.
Yang dimaksud dengan kemampuan guru di sini ialah: penguasaan yang
baik terhadap substansi keilmuan mata pelajaran, dan kependidikan (pengelolaan
kelas dan proses pembelajaran) juga tidak mudah. Kelemahan kita dalam
menangani pemerataan dan peningkatan mutu guru mata pelajaran selama
ini sangat terkait dengan penyakit kolusi korupsi dan nepotisme yang
merebak di kalangan Departemen Diknas. Semenjak era otoda, ketika
sekolah secara struktural telah berada di bawah pemda kabupaten dan
kota, penyakit ini tidak mereda bahkan semakin meruyak, karena semakin
banyak tangan dan kepala di pemda kabupaten/kota dan bahkan di tingkat
propinsi, yang tidak memahami masaalah pendidikan, namun tetap ikut
campur tangan dengan dalih sama-sama ingin meningkatkan mutu
pendidikan. Tiga kendala pengadaan guru tadi sekarang ditambah lagi
dengan satu kesulitan spesifik SSNTI, yaitu kesulitan memenuhi
kebutuhan guru standar internasional. Yaitu guru science yang mampu
membelajarkan siswanya dengan bahasa pengantar Inggris.
Sekolah bermutu internasional tanpa guru yang menguasai: matapelajaran
science, pengetahuan keguruan, dan kemampuan berbahasa Inggris yang
memadai adalah mimpi belaka. "Dengan kata lain, meskipun kita
dapat belajar mengenai teori dan teknologi kependidikan dari negara
lain, akan tetapi selama kita belum mampu mengungkap serta
memverifikasi proses mental pembelajaran anak dan remaja Indonesia,
selama itu pula kita hanya akan mampu mentransplantasikan teori dan
teknologi kependidikan asing yang kita tidak pernah mengetahui persis
relevansi serta keterterapannya di dalam latar sosial budaya
Indonesia, baik saat ini maupun di masa depan. Depdikbud (1993).
Sistem Pengadaan, Pemamfatan, dan Pembinaan Guru halaman:7.
Permasalahan interen teknis dan non teknis yang dihadapai oleh sekolah
piloting sebetulnya cukup banyak. Diantaranya:
-
tidak
tersedianya tenaga guru yang berkemampuan mengelola
pembelajaranscience dalam bahasa Inggris,
-
belum
adanya syllabus serta bahan pengajaran (berbahasa Inggris)
yang relefan.
-
seleksi
awal calon siswa masukan yang masih dipertanyakan keabsahan-nya.
-
penyediaan
ruang kelas yang nyaman, mengingat siswa harus berada di ruang
kelasnya lebih lama dari rekannya yang belajar di kelas reguler.
-
penolakan
atau ejekan dari siswa reguler dan sebahagian guru yang tidak
menerima baik keberadaan kelas piloting yang diperlakukan istimewa,
-
belum
bakunya sistem penghargaan kepada guru yang mengajar di kelas
piloting, baik kepada 'guru science' maupun bukan.
Minat
Baca
Rendahnya minat baca siswa kita mengakibatkan penguasaan bahasa
siswa juga rendah. Mereka akan mengalami kesulitan dalam menyerap
pelajaran, baik dari bacaan maupun dari keterangan lisan guru.
Pengaruh kekuatan membaca terhadap pencapaian nilai unas yang tinggi
dibuktikan oleh prestasi gemilang Nailul, pelajar SMP I Porong,
Sidoarjo Jatim, dan oleh Nailul-Nailul lainnya.
Remaja putri yang gemar membaca ini, berhasil membuat kaget dunia
pendidikan Sidoarjo dan Jawa Timur setelah nilai UN-nya menyabet hasil
maksimal. Tiga mata pelajaran UN yaitu Matematika, Bahasa Indonesia
dan Bahasa Inggris semuanya mendapat nilai 10.
"Tiap hari rata-rata saya belajar 1,5 jam," imbuh
Nailul.Bahkan selama ini, siswa yang menyukai mata pelajaran
matematika, dan kurang menyenangi mata pelajaran Bahasa Indonesia ini
tak pernah ikut bimbingan belajar maupun kursus. "Saya hanya ikut
les tambahan di sekolah seminggu tiga kali, pagi satu jam, siang 1,5
jam, ditambah dukungan kakak dan ibu," urainya.
Susiani, ibu Nailul yang akrab dipanggil Anik, mengatakan tak pernah
memaksa anaknya untuk menjadi nomor satu. Alhamdullilah anak-anak juga
kurang menyukai tayangan sinetron," kata Anik.
Wali kelas Nailul, Lutfi menyebut. dia dapat nilai 10 itu bukan
kebetulan dia memang punya bakat anak pandai. Dalam setiap pelajaran,
pemahaman konsep, pemecahan masalah maupun praktik cendrung baik,"
kata Lutfi. Pada UN tahun ini, SMPN I Porong menyertakan 362 siswa,
namun 21 diantaranya tidak lulus. (es) Harian Surya, Kamis (30/6).
Berangkat dari pengalaman Nailul di atas, mestinya, kita harus segera
memulai merumuskan program peningkatan minat baca siswa kita melalui
pembelajaran berbagai mata pelajaran termasuk dalam pembelajaran
science dan matematika berbahasa Inggris. Siswa seperti Nailul tidak
akan mengalami kesulitan berarti dalam belajar science dalam bahasa
Inggris dari gurunya, di SMA.
Mencetak Guru (Internasional)
Mencetak guru science yang bisa mengajar dengan pengantar bahasa
Inggris sepertinya sudah menjadi suatu hal yang mendesak. Perikrutan
guru berbahasa Inggris di lembaga perguruan tinggi kependidikan (LPTK)
belum ada, sementara kebutuhan akan guru seperti itu sudah mendesak.
Di Sumatera Barat saja, tahun pelajaran 2005/2006 ini, akan ditambah
enam (6) sekolah piloting lagi, menjadi 12 sekolah. Oleh sebab itu
perlu segera dicarikan cara 'mencetak guru internasional' yang paling
jitu.
Cara pencetakan guru science berbahasa Inggris akan sangat dipengaruhi
oleh siapa yang akan di-Inggriskan. Meng-Inggriskan guru sience SMA
yang ada sekarang yang kebanyakan telah berusia di atas 40-an
tahun, akan menghendaki cara pendekatan yang berbeda bila dibandingkan
dengan proses peng-Inggrisan calon guru yang masih dalam pendidikan di
LPTK. Seandainya, hanya siswa lulusan SMA yang dituntut mampu
berbahasa Inggris dengan TOEFL skor 400, kita tidak mewajibkan
pengajaran science dalam bahasa Inggris, maka yang perlu dibenahi
adalah kurikulum pengajaran bahasa Inggris di SMA.
Apa yang harus dilakukan agar sekolah kita mempunyai guru
internasional? Ada dua hal yang dapat dilakukan. Satu, untuk jangka
panjang 5 s/d 10 tahun, perlu dipersiapkan kurikulum baru LPTK untuk
memperkuat kemampuan berbahasa Inggris calon guru science. Untuk itu,
perlu dipertimbangkan paket belajar bahasa Inggris intensif di prodi
S1 Kependidikan Science; tidak cukup dengan pengajaran Bahasa Inggris
sebagai kuliah umum, yang ada sekarang. Kedua, pemerintah harus
memfasilitasi sekolah target dengan program pelatihan. Bila kita
berasumsi bahwa semua guru science yang ada telah mampu memfasilitasi
proses pembelajaran siswanya dalam bahasa Indonesia. Yang perlu kita
lakukan sekarang hanyalah meng- Inggriskan mereka. Tugas ini
tidaklah terlalu berat, sebab para guru yang akan di-Inggriskan itu
adalah orang-orang cerdas, yang sedikit banyaknya telah mengerti
bahasa Inggris. Mereka telah belajar bahasa tersebut setidaknya selama
enam tahun di SMP dan SMA ditambah dengan satu semester di Perguruan
Tinggi Keguruan. Pengalaman saya mengajar para pengungsi Vietnam, yang
terdiri dari para nelayan, pemilik dan pelayan toko, ibu rumah tangga
dan pegawai memperlihatkan bahwa; setelah belajar tiga bulan saja, all
in English, mereka cukup menguasai survival English, dan layak
diterima sebagai pengungsi di Amerika, Australia dan Kanada.
Yang paling pas untuk dilaksanakan adalah melatih guru science yang
sudah ada di sekolah terkait. Peserta pelatihan yang diikutkan
mestilah hanya yang berkeinginan kuat untuk menjadi guru Internasional
saja. Sedangkan intruktur gurunya, sebaiknya, diambil dari dosen
science yang berpengalaman belajar di negeri Inggris didampingi dosen
bahasa Inggris, juga tamatan negeri Inggris, yang berlatar belakang
pendidikan SMA jurusan IPA. Agar proses peng-Inggrisan ini berhasil,
perlu dipertimbangkan kesiapan semua komponen berikut:
Guru science - yang berkemauan kuat. Pelatihan ini bukan untuk guru
yang mengajar lebih dari 18 jam seminggu. Sekolah, termasuk komitenya,
- Pengorganisasian pelatihan dan sekalian pendanaanya haruslah
diadakan pihak sekolah, dan tidak mungkin dibebankan kepada guru yang
ikut pelatihan. Dukungan dari Dinas Pendidikan kota/kabupaten -
Sekolah dan sekalian guru yang mengikuti pelatihan, mestilah mendapat
perhatian khusus dan pembinaan yang terprogram dari dinas terkait.
Pemerintah daerah tidak boleh seenaknya memindahkan dan memasukkan
guru dari dan ke sekolah SSI dengan pertimbangan yang tidak jelas ada
kaitannya dengan kemajuan pendidikan di sekolah itu. Pemerintah harus
memberikan penghargaan kusus kepada guru internasional.
Syllabus Pelatihan hendaklah mencakup kemampuan berbahasa guru dalam
mengelola proses belajar mengajar mata pelajarannya dengan bahasa
Inggris yang benar.
Saya melihat, ada dua aspek bahasa Inggris yang perlu diajarkan kepada
guru, dalam rangka pelatihan guru internasional ini. Dua aspek itu
adalah: 1) classroom language, dan 2) (correct) science
terminology.
Classroom language yang perlu dikuasai guru adalah bahasa umum yang
sering dipakai di dalam kelas untuk: menghimbau, memberitahu, menyuruh,
melarang, mengoreksi.
Let's
start the class.
I'm going to check how you're going on with your homework.
Why don't you show me your exercise book?
Who can do the exercise number three, on the whiteboard!
Please, stop that noise Syahrial!
This is not correct.
Here is how its mirror reflection should look.
Guru yang tidak memahami classroom language yang benar akan sering
menimbulkan salah pengertian di kalangan siswanya. Bukan tidak mungkin
si Guru menjadi objek cemooh siswa, dan bahan lucu-lucuan. Keahlian
guru dalam pemakaian classroom language juga akan mengurangi timbulnya
bahasa prokem seperti:
Wu ken namber wan?
Wai yu this Syahrial!
After thing, Ai now Ai rong.
Bayangkan pula bagaimana repotnya guru internasional kalau dia
tidak pandai meng-eja suatu kata Inggris dengan benar. Dia tidak bisa
membunyikan alfabet Ingris dengan benar. Oleh karena itu dia
mengejakan kata 'axial' dari istilah 'axial skeleton' dengan: A-EK-I-A-EL,
padahal semestinya dieja dengan; EI-EKS-AI-EI-EL. Cara mengeja yang
buruk bisa membingungkan siswa yang telah lebih bagus bahasa
Inggrisnya.
Terminology dalam science juga perlu dipelajari ulang oleh para guru,
sebab mereka mungkin telah terlalu lama tidak merujuk langsung kepada
buku teks asli (berbahasa Inggris). Kemajuan ilmu dan teknologi yang
pesat mungkin telah memperkenalkan berbagai terminologi ke-ilmuan baru.
Istilah yang diartikan dengan padanan kata indonesia 'jaringan',
yang ada dalam mata pelajaran Fisika dan Biology, sejak lama, muncul
dalam kata inggris bisa berbeda-beda: instalation, framework, tissue,
layer. Sekarang, bukan tidak mungkin telah ada puluhan kata inggris
baru yang dipadankan masih tetap dengan kata 'jaringan' itu juga.
Terminology dalam teknologi komputer, misalnya, juga sangat cepat
berkembang. Begitu cepatnya, sehingga tidak ada lagi waktu untuk para
guru membetulkan siswanya. Maka, kita sering mendengar istilah salah
ucapan yang diucapkan berulang-ulang:
" Undo, undo., biar kembali ke tampilan semula!" "Buk,
tolong Buk. Ini mos-nya kok tidak bisa bergerak.!"
Apalagi
kalau sudah sampai kepada istilah yang terlalu fisika atau terlalu
biologi seperti: nucleic acids, nucleotide, thymine (base) dan
sebagainya. Istilah-istilah itu sangat sulit untuk diterangkan secara
verbal (dengan kata-kata) baik dalam bahasa Indonesia, apa lagi dalam
bahasa Inggris. Ini harus di perbincangkan oleh calon guru
internasional dengan dengan instruktur mereka. Bila guru science telah
berbahasa Inggris, maka pengajaran bahasa Inggris yang miskin waktu
selama ini akan lebih terbantu. Akan semakin banyak waktu buat siswa
untuk mempraktekkan bahasa Inggrisnya.
Halang-rintang Pelatihan Bahasa Inggris
Hambatan budaya. Peran guru/instruktur di kelas sudah cukup jelas,
yaitu sebagai fasilitator, pemonitor, dan sekali-sekali
memberikan penekanan untuk mempengaruhi pemakaian bahasa siswa,
Littlewood dikutip Soenjono Dardjowidjojo 2003, hal.202. Tetapi, dalam
menghadapi siswa dan guru Indonesia, dengan latar belakang
kultur yang berbeda dengan siswa di Barat, Soenjono mengusulkan
agar guru dan instruktur menyesuaikan metode pendekatannya, sehingga
pembelajaran dapat terjadi. Soenjono juga menyitir kurangnya minat
baca orang Indonesia. Ini bisa berdampak kepada minimnya knowledge
awal siswa dan guru kita untuk bisa terlibat dalam kegiatan diskusi di
kelas. Instruktur peng-Inggrisan harus jeli dalam memilih metoda
pembelajaran yang sesuai untuk mengatasi 'hambatan budaya' ini.
Peserta pelatihan guru internasional (PPGI) bukanlah mahasiswa yang
kerjanya hanya belajar semata-mata. Sebagai guru mereka telah over
burdened dengan begitu banyak kerja. Tuntutan untuk menjadi guru masa
datang juga makin berat. Rao (2003) hal. 294-295 Oleh sebab itu
penjadualan, tempat pelatihan, dan sumber belajar mestinya tidak lagi
memperberat mereka, tetapi hendaklah membuat mereka merasa enjoy.
Baiknya, pelatihan dilaksanakan di awal semester, agar tidak tumpang
tindih dengan pekerjaan guru yang berat dalam menyiapkan ujian akhir
semester dan pengisian buku rapor siswa.
PPGI adalah pembelajar dewasa (andragogi), yang mungkin akan segera
mengantuk bila diceramahi. Oleh sebab itu pembelajaran harus bisa
membuat mereka 'bergerak' , terlibat langsung, dan tidak mengantuk.
Dari sisi instruktur bahasa Inggris dapat juga timbul kelemahan
seperti: instruktur berbicara terlalu banyak sehingga guru peserta
tidak mendapat bahagian waktu berbicara. Pada gilirannya, guru akan
berbuat serupa ketika mengajar. Bisa juga terjadi, instruktur terlalu
fokus kepada science terminology yang 'tidak begitu dikuasainya',
sehingga naluri belajar science-nya sendiri yang bangkit sehingga lupa
akan perannya untuk meng-Inggriskan. Yang terjadi, instruktur bahasa
Inggris yang belajar science bukan sebaliknya.
Dampak Peng-Inggrisan Guru Science
Bila piloting kelas internasional berlanjut tanpa guru
internasional dengan kemampuan bahasa Inggris memadai, guru science
akan terkesan 'bodoh' di mata siswanya. Terlebih bila, si Guru sempat
pula memperlihatkan keragu-raguannya di depan siswa siswanya, ketika
sedang merujuk kepada buku teks berbahsa Inggris.
Karena lazimnya siswa menganggap guru serba-tahu, bisa juga terjadi
siswa yang telah berbahasa Inggris lebih baik dari guru science-nya
mengambil bahasa Inggris yang salah dari guru science. Akibatnya,
siswa tidak akan menguasai science dan bahasa Inggris yang bertaraf
internasional. Piloting dengan guru science yang benar-benar mampu
berbahasa Inggris dengan baik akan meningkatkan mutu pembelajaran mata
ajar bahasa Inggris. Karena siswa akan mempunyai lebih banyak ruang
untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggrisnya.
Catatan Tentang Guru dan Tenaga Kependidikan
Dalam hal berteori tentang usaha peningkatan mutu pendidikan, di
tingkat kementerian dan akademisi, Indonesia mempunyai cukup banyak
para ahli. Yang berkemampuan menyusun kurikulum sekolah juga tidak
kurang. Saat ini, yang sulit ditemui dan langka ketersediaannya adalah
tenaga yang berkemampuan untuk menangani proses belajar mengajar bagi
masing-masing matapelajaran di kelas. Lebih sulit lagi mencari kepala
sekolah yang memahami proses transformasi pendidikan anak didik dan
mengerti cara memimpin persekolahan.
Jadi, yang menjadi permasalahan berat di persekolahan kita adalah
implementasi dari apa yang telah dirumuskan dalam berbagai teori
tentang perbaikan mutu pendidikan, peng-implementasian kurikulum. Saya
melihat LPTK belum berhasil menyediakan tenaga guru mata pelajaran
yang cukup handal dalam jumlah yang memadai. Yang tampak adalah; LPTK
sekedar memberi kelulusan kepada calon guru. Media Indonesia, April
2005.
KESIMPULAN, DAN USUL SARAN
Usaha peningkatan mutu pendidikan melalui piloting sekolah
berstandar nasional yang bertaraf internasional di tiap kabupaten dan
kota baru mungkin berhasil bila guru internasional yang
menguasai bahasa Inggris telah dicetak LPTK. Pelatihan peng-Inggrisan
guru science adalah suatu cara perikrutan guru internasional, bersifat
temporer, yang patut dipertimbangkan. Supaya usaha kita yang telah
dimulai tidak sia-sia, persiapan yang matang untuk LPTK pencetak guru
internasional, dan untuk pelatihan peng-Inggrisan harus dilakukan.
REFERENSI
-
Bhaskara Rao, Digumarti, ed. 2003. Teachers in a Changing World. New
Delhi: Discovery Publishing House.
-
Depdikbud 1993. Seri Kebijaksanaan Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan:Sistem Penyelenggaraan Sekolah Unggul. Jakarta: Depdikbud
-
Depdikbud 1993. Seri Kebijaksanaan Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan:
Sistem Pengadaan, Pemamfaatan, dan Pembinaan Guru. Jakarta: Depdikbud
-
Media Indonesia, surat kabar harian 7 April 2005. Kronika:
Pendidikan
Untuk Gelar; mengutip Dirjen Pendidikan Tinggi Depdiknas.
-
Soenjono Dardjowidjojo 2003, Rampai Bahasa, Pendidikan, dan Budaya.
Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, hal.202
-
Surya Online, surat kabar harian - Korannya Arek Jawa Timur
http://www.surya.co.id/naskah.php?id=4010&rid=5
-
Soemarwoto, Otto (Juli 2000), dalam: Potret Buruk Perguruan Tinggi
Kita.
Kompas: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0007/31/OPINI/index.htm
Sumber: http://www.geocities.com/jipsumbar |